Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat
dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Syirik merupakan dosa yang sangat besar dan
bentuk kezaliman yang paling sangat terhadap Allah Ta'ala. Bagaimana tidak,
makhluk yang lemah, senantiasa butuh kepada rizki Allah, tidak kuasa atas hidup
dan matinya sendiri disamakan dengan AllahSubhanahu
wa Ta'ala sang pencipta semua makhluk, pemberi rizki,
menghidupkan dan mematikan mereka, dan Maha kuasa atas segala sesuatu.
Seorang musyrik menyamakan sesuatu yang tidak
memiliki kekuasaan atas apapun jua dengan Dzat yang semua urusan berada
ditangan-Nya. Menyamakan orang fakir dari segala sisi dengan Zat yang Mahakaya
dari berbagai sisi. Menyamakan yang tidak memberikan rizki sedikitpun dengan
Zat yang telah menciptakan apa yang menjadi rizki bagi manusia dan
menganugerahkan semua itu kepadanya. Maka adakah kezaliman yang lebih dahsyat
dari ini?
Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
"Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar."
(QS. Luqman: 13)
Sehingga patutlah jika orang-orang musyrik
dihinakan di neraka dan bertengkar sendiri dengan apa yang mereka jadikan
sekutu bagi Allah Subhanahu wa
Ta'ala, "Mereka
berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: "Demi Allah: sungguh
kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan
kamu dengan Tuhan semesta alam." (QS.
Al-Syu'ara': 96-98)
Begitu kurang ajarnya tindakan syirik, maka
sangat wajar jika Allah ancam keras pelaku kemusyrikan dengan terhapus semua
amal shalihnya, tidak diberi ampunan, haram masuk surga, dan pasti kekal di
neraka.
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ
بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Maidah:
72)
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ
أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ
باللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa
yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
(QS. Al-Nisa': 48)
Perlu dipahami, kedua ayat di atas yang
menerangkan ancaman perbuatan syirik berlaku di akhriat. Yakni orang yang
bertemu Allah Ta'ala dengan membawa dosa syirik dan belum bertaubat darinya,
maka ia tidak akan disucikan, tidak diampuni dosa dan kesalahannya, dan
diharamkan atasnya masuk surga sehingga ia kekal di neraka.
Maka siapa yang saat ia mati masih membawa dosa
syirik dan tidak bertaubat darinya sebelum wafatnya, maka ia tidak akan
mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Allah telah haramkan ampunan bagi dosa syirik
yang pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggalnya. Hal ini berbeda,
-sebagaimana disebutkan pada ayat yang kedua- dengan dosa selain syirik yang
dibawa mati pelakunya, ia berada di bawahMasyi-Ah (kehendak) Allah. Artinya, jika Allah berkenan
maka akan mengampuninya, dan jika berkehendak lain akan menyiksanya sesuai
dengan banyaknya dosanya lalu akan mengelurkannya dari neraka dan memasukkannya
ke dalam surga. Sehingga tempat singgah terakhirnya adalah di surga. Ini
berlaku bagi seorang Muwahhid yang
mati membawa dosa yang tingkatannya di bawah syirik.
Adakah Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan?
Seseorang yang telah terjerumus ke dalam
kesyirikan lalu sadar akan kesalahannya dan besarnya dosa yang telah diperbuat,
ia tidak boleh berputus asa dari ampunan dan taubat Allah Ta'ala, "Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)
Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ
اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)
Ayat ini berbicara tentang pelaku dosa dalam
hukum dunia, sebagai kabar gembira bagi pelaku maksiat bahwa ia masih memiliki
kesempatan untuk diampuni dosa jika bertaubat sebelum wafat. Bukan hanya dosa
yang kategorinya maksiat saja, bahkan syirik pun masih ada kesempatan mendapat
ampunan jika bertaubat sebelum wafat. Karena Allah menyebutkan, "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
Perlu dicamkan, ayat ini tidak berlaku di
akhirat. Karena jika diterapkan demikian pastinya akan membatalkan sejumlah
nash Al-Qur'an dan sunnah yang berisi ancaman terhadap dosa syirik yang dibawa
mati. Ia juga akan menggugat kesepakatan umat, tidak ada ampunan bagi pelaku
dosa syirik pada hari kiamat di mana ia belum bertaubat darinya saat masih di
dunia. Jika ayat ini dibawa kepada hukum akhirat, maka batallah keyakinan kaum
muslimin bahwa surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa muslimah atau mukminah.
Maka sesatlah pemahaman orang yang membawa QS. Al-Zumar: 53 ini kepada hukum di
akhirat.
Dalil Adanya Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan
Pelaku kesyirikan masih memiliki kesempatan
untuk dihapuskan dosanya selama ia masih hidup, yakni dengan bertaubat darinya
sebelum wafat. Hal ini dikuatkan oleh beberapa nash Al-Qur'an dan Sunnah
Shahihah, antara lain:
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ
مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ وَلا
يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَاللهُ إِلاَّ
بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً . يُضَاعَفْ
لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلاَّ مَنْ
تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ
سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُوراً رَحِيماً
"Dan
orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang
benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia
mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya
pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan
mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 68-70)
Ayat di atas sangat jelas menunjukkan adanya
ampunan Allah Ta'ala bagi semua dosa, sampai syirik, selama ia bertaubat
sebelum wafat. Bahkan ayat menerangkan keutamaan besar bagi mereka yang
bertaubat, yakni diganti keburukannya dengan kebaikan.
Dari Abu Farwah rahimahullah,
dia mendatangi RasulullahShallallahu 'Alaihi
Wasallam dan
berkata: "(Ya Rasulullah!) bagaimana menurutmu, jika ada seseorang yang
mengerjakan semua perbuatan dosa dan tidak meninggalkan satu perbuatan dosa pun
serta tiada keinginan untuk berbuat dosa kecuali ia lakukan. Apakah ada taubat
baginya untuk semua itu?"
Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam bertanya: "Apakah kamu sudah masuk
Islam?"
Ia menjawab, "Adapun saya bersaksi tiada
sesembahan yang hak kecuali Allah dan bersaksi bahwa engkau adalah utusan
Allah."
Beliau bersabda: "Berbuat baiklah dan
tinggalkan perbuatan buruk, maka Allah akan menjadikan semua perbuatan buruk
itu sebagai kebaikan bagimu." Ia berkata: "penghianatan dan
kejahatanku?" Beliau menjawab: "ya." Ia terus menerus bertakbir
hingga tidak terlihat lagi." (HR. Thabrani)
Hal ini berbeda dengan orang yang memberikan
sesembahan kepada selain Allah dan tidak bertaubat darinya hingga wafat. Ia
berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa syirik tersebut, maka bagiannya
adalah, "Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik." (QS. Al-Nisa': 48)
Adapun Hadits, sangat banyak sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang
menjelaskan adanya harapan ampunan bagi pelaku kesyirikan yang bertaubat
sebelum wafat. Di antaranya, hadits Qudsi yang dikeluarkan Imam al-Tirmidzi,
يا ابنَ آدم إنَّك لو
أَتَيتَني بِقُرابِ الأرضِ خَطايا ، ثمَّ لَقِيتَني لا تُشركُ بي شَيئاً ،
لأتيتُكَ بِقُرابها مغفرةً
"Wahai
Anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa
sepenuh bumi, lalu engkau berjumpa dengan-Ku tanpa menyekutukan sesuatu
dengan-Ku, pasti Aku akan datangkan kepadamu ampunan sebanyak itu."
Sahabat Jabir Radhiyallahu
'Anhu menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu
bertanya, "Ya Rasulallah, apa dua hal yang paling menentukan?" Beliau
menjawab,
مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ
بِاللهُ شَيْئًا
دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِشَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
"Siapa
yang mati sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, pasti ia
masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu,
pasti masuk neraka." (HR. Muslim)
Sedangkan diketahui, seseorang yang bertaubat
dari dosa, ia laksana orang yang tidak melakukan dosa tersebut,
اَلتَّائِبُ مِنَ
الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
"Orang
yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa."
(HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Penutup
Setiap muslim yang menyadari keagungan Tuhan-Nya
pastilah akan menganggap besar dosa kesyirikan terhadap Allah, sampaipun syirik
kecil. Sehingga ia benar-benar menjauhi kesyirikan, takut kepadanya, berlindung
dari terjerumus ke dalamnya, dan meminta ampun atas kesyirikan yang tidak
disadarinya. Dan jika pernah terjerumus ke dalamnya, ia bertaubat kepada Allah
darinya. Dan siapa yang bertaubat dari salah satu bentuk dosa, maka ia laksana
orang yang tak pernah melakukan dosa tersebut. Wallahu Ta'ala a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar